
Tema Khutbah : Siapakah Wali Alloh?
Khotib : Al-Ustadz Abu Yahya Badrusalam
Durasi : 17 Menit 50 Detik
Ukuran File : 2,04 Mb
Download: Klik Download
Sumber: abangdani.wordpress.com

Tema Khutbah : Siapakah Wali Alloh?
Khotib : Al-Ustadz Abu Yahya Badrusalam
Durasi : 17 Menit 50 Detik
Ukuran File : 2,04 Mb
Download: Klik Download
Sumber: abangdani.wordpress.com
Para salaf sangat memperhatikan dalam hal kepada siapa mereka mengambil ilmu. Mereka melihat keadaan amalan sunnah yang dia tegakkan dan akhlaq mereka dalam pergaulan harian. Para salaf banyak meninggalkan orang yang dianggap berilmu karena dia tidak menjaga lisannya, cara sholatnya yang tidak sesuai sunnah dan perkara-perkara yang lainnya. Maka hendaklah menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak hanya melihat orang karena keilmuannya tapi juga karena akhlaq dan amalan sunnah yang dia tegakkan. Bagaimana kita akan mengambil ilmu dari orang yang berakhlaq buruk?!. Demikian ringkasan materi yang disampaikan Ustadz Abdulloh Taslim MA, direkam di Studio Radio Suaraquran Solo 10 April 2010.
Silahkan Antum Download Di Bawah Ini
Bagaimana Para Salaf Memilih Guru.mp3
Sumber: Radio Suara Quran 94,4 FM
Secara resmi, Departemen Agama (kini Kementerian Agama) telah mengeluarkan Edaran tentang Syi’ah melalui Surat Edaran Departemen Agama Nomor D/BA.01/4865/1983, tanggal 5 Desember 1983 perihal “Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah”
Pada poin ke-5 tentang Syi’ah Imamiyah (yang di Iran dan juga merembes ke Indonesia, red) disebutkan sejumlah perbedaannya dengan Islam. Lalu dalam Surat Edaran Departemen Agama itu dinyatakan sbb:
“Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dalam ajaran Syi’ah Imamiyah pikiran tak dapat berkembang, ijtihad tidak boleh. Semuanya harus menunggu dan tergantung pada imam. Antara manusia biasa dan Imam ada gap atau jarak yang menganga lebar, yang merupakan tempat subur untuk segala macam khurafat dan takhayul yang menyimpang dari ajaran Islam.” (Surat Edaran Departemen Agama No: D/BA.01/4865/1983, Tanggal: 5 Desember 1983, Tentang: Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah, butir ke 5).
Inilah teks selengkapnya Surat Edaran Departemen Agama Tentang: HAL IKHWAL MENGENAI GOLONGAN SYI’AH
Surat Edaran Departemen Agama
No: D/BA.01/4865/1983
Tanggal: 5 Desember 1983
Tentang:
HAL IKHWAL MENGENAI GOLONGAN SYI’AH
1. PENDAHULUAN
Timbulnya golongan-golongan di kalangan Islam dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad, khususnya disebabkan perbedaan pendirian tentang siapa yang berhak menggantikan beliau sebagai pemimpin masyarakat atau Khalifah. Golongan-golongan tersebut ialah:
Segala puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sholawat dan salam buat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah memperjelas tauhid dengan segala sendi dan cabang-cabangnya serta pembatalnya.
Pada kesempatan kali ini kita ingin membahas tentang penyebab dominan timbulna kesyirikan di tengah-tengah umat manusia. Di antaranya yaitu pengkultusan terhadap kuburan nenek moyang dan orang sholih dan yang di anggap sholih. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan firman Allah azza wa jalla (yang artinya):

“Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yoghuts, Ya’uq dan Nasr.” [QS.Nuh/71:23]
Ini adalah nama orang-orang sholih dari kaum nabi Nuh ‘alaihis salam. Tatkala mereka meninggal, setan mewahyukan kepada kaum mereka untuk membuat patung di tempat-tempat duduk mereka. Lalu mereka menamai patung-patung tersebut sesuai dengan nama-nama mereka. Pada awalnya patung-patung itu masih belum disembah, sampai ketika mereka (orang-orang yang membuatnya) meninggal dan disertai dengan terhapusnya ilmu, lalu kaum yang datang kemudian menyembahnya.” [1]
Diantara sebab yang membawa kaum yang kita sebutkan di atas kepada pengkultusan kuburan:
Mukaddimah
Segala puji bagi Allaah yang telah memberikan begitu banyak nikmat-Nya kepada kita. Dan diantara nikmat-nikmat tersebut ialah dengan diberikannya kita berbagai kemudahan untuk menuntut ilmu. Alhamdulillaah saat ini begitu banyak media yang dapat kita gunakan untuk menuntut ilmu, salah satunya adalah media televisi dan Internet. Namun sangat disayangkan, sampai hari ini kita masih belum memiliki televisi yang diikat dengan nilai-nilai Sunnah yang menjadikannya sebagai teman bagi kita dalam mendidik keluarga.
Insya Allah kehadiran televisi Sunnah yang kita nantikan semakin dekat. Dengan mengucapkan bismillaahirrahmaanirrahiim, kami telah memulai pendirian sebuah stasiun televisi dengan nama AhsanTV , yang artinya; TV yang lebih baik. TV dengan siaran yang lebih baik dibanding siaran TV lainnya, TV yang membuat kita menjadi lebih baik, insyaa Allaah.
Dalam kuartal pertama ini siaran AhsanTV insyaa Allah sudah dapat Anda saksikan melalui Internet, yakni melalui streaming Windows Media Player. Dan biidznillah dengan dukungan Anda semua, kami akan memancarkannya melalui pemancar sehingga dapat siaran-siaran ini dapat juga dinikmati melalui televisi.